Kurator(ial) Mbilung dan Tafsirnya
Bertitik
berangkat dari realitas ini saya mencoba mencari celah lain untuk
memahami kecamuk pemikiran dan dunia batin Masdibyo, yakni lewat
jejaring sosial yang sangat populer di dunia, Facebook. Tampaknya Facebook menjadi
medium yang sangat dekat, karib, dan representatif untuk meluapkan
segenap perasaan dan pemikiran sekian banyak orang, termasuk bagi
pribadi Masdibyo. Saya sendiri menjadi friend dengan Masdibyo di
Facebook sejak hari Selasa, 7 Desember 2010. Dan sejak itu saya bisa
mengintip banyak hal yang menjadi ketertarikan Masdibyo lewat
status-status yang ditulisnya, atau lewat foto-foto yang di-upload-nya,
juga melalui komentar-komentarnya atas status yang saya buat atau status
friend(s) lain.
Dari
sini kemudian dua hal yang kontradiktif terlihat bertumbuk satu sama
lain: Facebook merupakan derivat dari dunia maya namun bisa dimungkinkan
merepresentasikan dunia nyata, atau sebaliknya. Saya hanya bisa mencoba
untuk berpikir positif bahwa pada medium dunia maya itu orang atau
seniman seperti Masdibyo mencoba menampilkan diri dengan
potongan-potongan realitasnya, juga petilan-petilan representasinya.
Facebook
tampaknya menjadi sahabat yang baik bagi Masdibyo. Saya cukup kerap
menyimak wall-nya baik sengaja atau tidak dan beroleh kesan bahwa
ternyata seniman lulusan Jurusan Seni Rupa IKIP (sekarang Universitas
Negeri Surabaya, UNESA) ini relatif sangat produktif melansir status,
foto, komentar balik, dan sebagainya. Ada kalanya dalam satu hari (24
jam) dia bisa mengeluarkan 10 status, bahkan lebih, plus meng-upload
foto-foto berikut catatan kecil yang serupa status. Dalam sebulan yang
28 hingga 31 hari Masdibyo mampu “memproduksi” ratusan status. Sebagai
Facebooker atau pengguna Facebook, tentu seniman ini bisa dibilang
sangat aktif dan produktif.
Dari
sekian banyak status dan teks foto yang di-share di-wall-nya, saya
mencoba mengumpulkan secara random 100 buah sebagai contoh kasus untuk
diamati. Dari jumlah itu, di-upload pada tahun 2011 dan 2012 dan hampir
60% di antaranya saya pilih yang berkait dengan dunia seni rupa.
Selebihnya merupakan status berisi komentar Masdibyo tentang keluarga,
keadaan politik kontemporer, agama, dan sekian banyak persoalan lain.
Hal
menonjol dari status-statusnya tentang persoalan seni rupa adalah sikap
dan opininya tentang sepak terjang sosok kurator seni rupa. Di bawah
ini ada lima (5) kutipan status Masdibyo:
kepada ytc. Kritikus seni rupa Indonesia,
Dengan hormat, Bersama
ini saya sarankan anda pensiun saja menikmati sakit hati, ato
meleburkan diri menjadi calo/pelacur seni sekalian, sebab jamannya sudah
berubah, sekarang ini jamannya jaman pesta para Calo Seni yg dikemas
dengan merk KURATOR. Berminat?? Bergabunglah dengan mereka, dan selamat
menikmati pesta . Hormat saya,
m a s d i b y o
(June 28, 2011)
Ada yg sms aku: "masdibyo, kok berani mengkritisi situasi seni rupa saat ini apa ga takut disirik/dibenci KURATOR?" Kujawab: "KURATOR
bener tak mungkin membenciku, justru makin akrab, sbb kita sama2 punya
tanggungjawab jaga WIBAWA SENIRUPA, tak sekedar cari untung dari seni
rupa, kalo yg membenci KURATOR yg lakukan praktek2 penipuan macam itu,
ngapain takut? Kalo perlu ANTEM-ANTEMAN PISAN GELEM AKU MAS!!
(June 12, 2011)
"mas, sampeyan itu kok antipati banget se ama kurator Mbilung ,, dia itu doktor lho!" "MESKI
DOKTOR, KALO DISEMATKAN PADA MBILUNG, YA TETAP SAJA "DOKTOR MBILUNG",
DANCUK!! SAMPEYAN KI, SULIT JADI PELUKIS SAMA JADI KURATOR ITU!! JADINYA
DOKTOR KAN KARENA TUNTUTAN/KEHARUSAN DARI WILAYAH KERJANYA, GELARNYA
ITU CUMA UNTUK PRESTIS ATAS BIAYA UANG RAKYAT!! KALO SETELAH JADI DOKTOR
LANTAS KEMETHAK GITU ITU,, AKU LEBIH MENGHARGAI GIMAN SI PETANI UTUN
ITU MAS !!" "repot omong sama masdibyo" "REPOT EMANG, SAMPEYAN SE,,, TEMA PERTANYAANNYA TENTANG MBILUNG, DANCUK!!" "ya wis,,, ya wis,, ngobrol liyane,,, hahahaha…”
(December 5, 2011)
"Seni
lukis Indonesia mulai th 2000an, secara kuantitas luar biasa, tapi
kualitas tidak. Hal ini terjadi justru karena maraknya sistem
kuratorial" "ANDA KOK TAHU??" "Saya
menyukai karya2 pelukis Indonesia, dan mulai mengoleksi th 1993 sampe
lukisan terakhir yg saya beli karya Made Jirna 1999 dan Putu Sutawijaya
2004, setelah itu lelang di Indonesia rame, beberapa kali saya datang,
tapi setelah itu tidak lagi, karena permainannya nampak sekali, saya tak
mau terjebak ke dalam permainan mereka." "BAGAIMANA DENGAN KARYA PERUPA INDONESIA SEKARANG??" "Saya
memilih mengoleksi karya perupa muda China, orisinalitasnya terjaga dan
saya bisa memilih langsung ke studionya, perupa Indonesia susah karena
mereka sudah menjadi karyawan galeri" "SAYA TIDAK,,," "Saya
punya satu karya anda, dapat dari lelang Balindo th 1998, ada
sertifikatnya lucu, saya suka, kapan anda Pameran saya diundang".
Lalu
dia memberiku kartu nama, dia kolektor dari Singapura yg sangat tidak
suka dengan buih2 kurator Indonesia . Hmmmmm,,,, TERNYATA MASIH ADA.
Kepada teman2 yg tak masuk dalam lingkaran itu JANGAN KECIL HATI YA???
Ayo terus berkarya!!!
(November 22, 2011)
PAMERAN ITU SEBUAH PERTANGGUNGJAWABAN KEPADA PUBLIK, JADI TEMA HRUS JELAS DAN HARUS ADA KURATORIAL!! Preeeeett pret epret epreeeeeet,, Publik
yg mana maaas??? Tanggungjawab sama penyelenggara itu ta!! Publik ga
pernah peduli sampeyan mau mamerkan apa!! Kalo bagus diliat, kalo jelek
ga direken!! Gitu aja,,, publik ga kakean cangkem kaya sampeyan iku!!
(September 10, 2011)
Lima status Facebook Masdibyo
tersebut bisa memberi potongan pemahaman pada pembacanya atas sikap
personal dan kesenimanannya terhadap sosok kurator seni rupa. Sikap itu
berupa penolakan sekaligus resistensi atas kehadiran kurator dalam
praktik kreatif seni rupa. Bahkan kalau menyimak statusnya yang
bertanggal 5 Desember 2011 nampak sekali bahwa penolakan itu sudah
menjurus sebagai sebuah “serangan personal” tertentu (karena telah
menyebut atribusi yang cukup definitif) yang barangkali sudah menjadi
rahasia umum di Jawa Timur tempat seniman ini menetap. Namun
status-status tersebut bisa pula ditanggapi sebagai sebuah kritik
konstruktif bagi para kurator seni rupa yang barangkali
gagasan-gagasannya tentang praktik dan peran kurator(ial) kurang
terbumikan dengan baik dan memadai di sini, setidaknya pada telinga
Masdibyo, sehingga muncul respons yang cukup negatif.
Kasus
semacam ini tentu bukan yang pertama, dan kemungkinan masih juga
terjadi hingga sekarang. Banyak perhelatan seni rupa yang memakai
bingkai kuratorial dan bersifat kompetitif nyaris selalu direaksi oleh
publik seni rupa sendiri dengan pandangan minor berbau penolakan. Seolah
hadirnya kurator dan bingkai kuratorial yang ditawarkan dengan
serta-merta hendak menjadi “algojo” yang sewenang-wenang meminggirkan
(kelompok) seniman tertentu dan memunculkan (kelompok) seniman tertentu
lainnya berlandaskan kedekatan emosional, kelekatan sosial,
jaring-jaring koncoisme dan sebagainya. Dugaan adanya praktik nepotisme
hampir selalu menjadi titik dasar persoalan dalam praktik kerja
kurator(ial).
Asumsi
ini tentu cenderung cukup menyesatkan, meski tidak bisa sepenuhnya
dipersalahkan. Minimalnya upaya mediasi serta sosialisasi akan
pentingnya kurator berikut bingkai kuratorial dalam tiap perhelatan seni
rupalah yang menjadi kunci atas asumsi-asumsi miring tersebut. Selama
ini pemahaman atas praktik kerja kuratorial seolah sekadar dipahami
sebagai EO (event organizer) seni rupa yang berorientasi sempit seperti
hanya mengarah ke upaya komersialisasi seni(man) semata, atau
kerja-kerja parsial sebatas menyeleksi karya pameran, bahkan diasumsikan
hanya sebatas menulis kata pengantar dalam katalogus pameran.
Padahal,
praktik kerja yang selalu diupayakan dibangun oleh kurator adalah
mencoba membuat disain pameran secara komprehensif. Dalam disain ini
seorang kurator menentukan intellectual framework (kerangka kerja
intelektual), yakni gagasan dan basis pemikiran yang menjadi titik
berangkat untuk memproyeksikan pameran terhadap target yang akan dituju.
Intellectual framework itu berasal dari dua kemungkinan.
Pertama,
berangkat dari riset, survei atau pembacaan kurator tentang tema dan
problem tertentu (sosial, politik, budaya dan sebagainya) yang kemudian
diimajinasikan untuk diturunkan (derivasikan) dalam praktik kerja visual
seniman. Dari sinilah kemudian kurator memiliki hak sepenuhnya untuk
memilih karya seni atau seniman yang sesuai dengan intellectual
framework. Dalam tahap ini sangat dimungkinkan kurator menyeleksi karya
yang tidak sekadar indah dan bagus dengan parameter estetik saja,
melainkan juga menempatkan karya yang menarik sebagai subyek untuk
menyuarakan persoalan tertentu. Teks visual diberi konteks persoalan.
Atau dalam istilah Direktur Apexart-Curatorial Program, New York, Steven
Rand (2002), dikatakan bahwa: “Seseorang bisa menunjukkan seniman dan
karya seninya, sedang kurator (mestinya) bisa menunjukkan karya seni dan
konteksnya”. Dalam level ini, pemahaman kurator terhadap teori dan
sejarah seni, karya yang artistik, berikut kemampuannya dalam displaying
karya diasumsikan telah cukup paripurna.
Kemungkinan
kedua, berasal dari artifak karya seni yang sudah ada atau tersedia
dengan kecenderungan tertentu untuk kemudian dibaca ulang oleh kurator
dengan beragam kemungkinan modus, sistem dan perspektif pembacaannya.
Pada titik inilah kreativitas seorang kurator diuji untuk lebih jauh
menggaungkan artifak karya seni tersebut. Upaya membongkar dan
menyubversi sistem (pe)makna(an) yang telah menjadi mainstream atas
karya tersebut sangat dimungkinkan terjadi. Misalnya eksposisi
tubuh-tubuh dan potret diri dalam kanvas-kanvas Masdibyo, tidak lagi
hanya bisa sebagai sebungkah praktik narsisisme, melainkan dapat juga
dikerangkai secara konseptual sebagai subyek perlawanan terhadap
dominasi praktik kuasa konsumsi. Belum lagi ihwal pemajangan karya yang
dilakukan tidak di galeri melainkan di kafe atau hotel berbintang,
misalnya, dimungkinkan akan mampu menciptakan ruang diskursif yang lebih
kompleks dan kaya.
Dalam
proses implementasi atas modus kuratorial seperti ini, kurator tidak
secara arbitrer (sewenang-wenang) melakukan kerja kuratorialnya, tetapi
tetap mengedepankan seniman sebagai pokok soal (subject matter) dan
sumber utama gagasan. Dengan demikian pola kerja yang simbiose
mutualistik kurator-perupa menjadi agenda terdepan. Proses komunikasi
yang intens dan setara menjadi lebih penting – seperti diungkapkan oleh
kurator Whitney Museum, AS, Lawrence Rinder (2002) –ketimbang bekal
teori yang dipahami oleh kurator dari buku yang tidak akan banyak
berguna tanpa inisiatif untuk terus-menerus melihat karya seni dan peka
melihat ruang-ruang baru yang spesifik. Di sinilah ada titik temu yang
relevan dari pandangan kurator Judith Tannenbaum yang memberi penegasan
bahwa tiap pameran perlu nyali dari sang kuratornya untuk menghadirkan
garis kuratorial yang penuh nilai curiosity, contradiction, collaboration, and challenge (dalam tulisan “C is for Contemporary Art Curator”, Art Journal, 1994). Curiosity (rasa ingin tahu) mengandaikan kegelisahan kurator untuk mendalami lebih lanjut karya dan praktik kerja seniman; contradiction (kontradiksi) mengandaikan pentingnya membenturkan nilai kontras antara yang mainstream dan yang hidden (tersembunyi), yang beredar dalam praksis dan teori; collaboration (kolaborasi) mengandaikan kerja kuratorial merupakan praktik kerja yang disemangati oleh praktik kolaborasi yang egaliter; dan challenge (tantangan) yang mengandaikan pentingnya progres yang dinamis sebagai sebuah tantangan utama.
Dari
cara dan praktik kerja kuratorial yang mutualistik dan didasarkan riset
yang komprehensif, maka kehadiran perupa terkenal dalam pameran
bukanlah menjadi alat ukur utama keberhasilan sebuah pameran. Reputasi
perupa peserta dalam perhelatan seni rupa bukannya tidak penting, tetapi
hal yang jauh lebih signifikan adalah peran kurator dalam memfokuskan
melihat karya-karya yang dikreasi seniman dan menempatkan
konteks-konteks karya itu ke dalam ruang-ruang pemahaman sosial,
politik, dan budaya secara lebih luas dan progresif. Dari sinilah
dimungkinkan kerja kuratorial akan secara otomatis berimbas pada
pemunculan nama-nama perupa baru dalam gelanggang pemetaan yang lebih
tinggi. Maka akan mengemukalah the new rising stars. Ini menjadi pola
konstruksi yang dapat disadari akan terjadi dalam pameran dengan
intellectual framework yang baik berikut garis implementasinya di
lapangan.
Sehingga,
kalau pada sebuah pameran yang bersifat kompetitif semisal biennale
memunculkan nama-nama perupa yang tak memiliki garis reputasi yang
jelas, kecurigaan dan dugaan adanya praktik nepotisme bisa dipenggal
oleh pertanyaan yang lebih konseptual terhadap garis gagasan kuratorial
seperti apa dan target kultural bagaimana yang memungkinkan mencomot
perupa dengan reputasi “yang tidak jelas” itu. Di sinilah titik tanggung
jawab kurator dipertaruhkan. Inilah sedikit keterangan tentang garis
kerja seorang kurator dan praktik kerja kuratorial yang tampaknya belum
termediasikan dengan baik sehingga bias di lapangan, seperti yang
barangkali dilihat sekilas oleh Masdibyo.
Seniman Penindas dan “Artisan”
Kembali kepada status-status Masdibyo dalam di wall Facebook-nya,
saya memperoleh beragam informasi dan “sikap politik” seniman ini
dengan lebih kaya lewat cara ungkap yang informal dan sulit didapatkan
dalam katalog-katalog pamerannya yang biasanya cenderung resmi, kaku dan
tak mengulik berbagai sisi persoalan tertentu dengan emosi yang hangat
bahkan meledak-ledak. Sebaliknya, dalam status di Facebook Masdibyo bisa
dengan lugas dan sinis melakukan kritik serta sesekali menyisipkan
gairah humornya.
Selain
sosok kurator yang banyak diserangnya, Masdibyo juga “menyerang” dengan
sinis seniman atau kelompok seniman yang praktik artistiknya dianggap
telah masuk dalam perangkap industrial yang mengedepankan aspek produksi
dan mengabaikan etika pola kreatif seniman yang “adiluhung”, yakni
mengandalkan tangan dan kemampuan sendiri sebagai “alat produksi” karya
seni. Simaklah dua contoh statusnya tentang hal ini:
Pelukis
sekarang banyak yang jadi PENINDAS!! Maksudnya: obyek yg mau dilukis
di-PRINT di kanvas, lalu DITINDAS dengan cat. Panteeeees bocah durung
iso sisi lukisan realise kok maut-maut tenan,,,, diamput, ketipu aku.
Hehe,,,,, www.ndomblong.co.id
(June 11, 2011)
"karya digital itu termasuk apa mas??" "PRAKARYA" "kerajianan?" "BUKAN, PRAKARYA!!" "masudnya?" "SEBELUM SENIMANNYA BERKARYA, GAMBARNYA SUDAH JADI DULUAN" "lho,,, tapi itu kan hasil kreatifitas, itu sebelum gambar ada dipikir dulu itu mas,,," "IYA,,,
TUKANG BECAKPUN JUGA BERPIKIR LHO, UNTUK AGAR CEPAT SAMPE TUJUAN DAN
SEGERA DAPAT DUIT DIA KREATIFITASNYA JUGA JALAN, LEWAT JALAN TEMBUS
MANA". "hahahahaha,,,, hebat de masdibyo". "LHO,, BARU TAU TA?? KALO GA HEBAT LUKISANKU GA MAHAL MAS!!! DANCUK SAMPEAN KI, PURA-PURA GA NGERTI YA??? " dia klejingan lalu merangkulku.
(January 22, 2012)
Dua
status di atas bisa dijadikan tengara untuk menyimak pemikiran Masdibyo
yang tampaknya masih tegas menolak praktik penciptaan karya seni dengan
melibatkan pendekatan dan semangat masinal dalam kreativitasnya.
Baginya, kerja kreatif seorang perupa ya sepenuhnya bergelut dengan 3-H
(Head, Heart, Hand) seperti diidealkan dalam konsep praktik kreatif
seniman di Barat. Dan ketika seniman telah “memotong” salah satu
prosedur kreatif dengan meniadakan atau mereduksi ketrampilan teknisnya
maka kekomplitannya sebagai seniman akan terkurangi. Bukan atau belum
sepenuhnya sebagai seniman.
Fenomena
“artisan” (seniman pekerja yang membantu kerja teknis “seniman yang
sesungguhnya”) dan “pelukis penindas” hingga lukisan “prakarya” seperti
yang dipermasalahkan Masdibyo itu cukup merebak dewasa ini. Dalam dunia
seni rupa kontemporer yang secara definitif belum benar-benar tuntas
mengamini adagium penting yang kontroversial, yakni “anything goes”,
apapun bisa. Adagium ini memberi jendela pemahaman bahwa batas-batas dan
pengkotakan-pengkotakan yang ada dalam seni rupa modern(isme) telah
cair dan melebur dalam praktik penciptaan seni rupa yang tanpa batas
yang jelas dan tegas. Istilah seperti aliran dekoratif, abstrakisme,
naturalisme dan semacamnya telah dianggap cukup sesak dan kurang memadai
untuk memberi “kurungan” kreativitas seniman atau perupa yang selalu
berusaha menciptakan “another form of art” yang baru dan meluas.
Implikasi dari “ideology of anything goes” muncul
dalam praktik kerja seniman yang diresahkan oleh Masdibyo. Ada seniman
durung iso sisi (belum bisa buang ingus) tapi ternyata lukisan realise
kok maut-maut tenan (lukisan dengan pendekatan realismenya kok bagus
sekali), dan ternyata Masdibyo terkecoh karena seniman “pengecoh” itu
hanya melakukan re-touch atas image foto yang dicetak secara digital (digital printing) dalam kanvas berukuran besar. Diamput, ketipu
aku, umpat Masdibyo. Implikasi semacam ini kurang lebih hadir dari
perluasan pemahaman bahwa cakupan kerja seorang seniman sekarang bisa
saja sekadar dari kemampuannya dalam mengolah dunia gagasannya saja dan
kemudian pada penerjemahannya di ranah dunia bentuk ditransfer atau
dibantu oleh perangkat teknologis dan atau pekerja seni lainnya dalam
kapasitas sebagai “artisan”.
Dalam
jagad seni rupa di Indonesia dewasa ini praktik semacam itu sebenarnya
sudah mulai lazim dilakukan. Untuk kawasan Yogyakarta dan sekitarnya
sudah menjadi rahasia umum bahwa seniman seperti Deddy PAW melakukan re-touch atas
digital printing dari karya-karya fotografinya yang memang artistik.
Belum lagi seniman-seniman lain. Juga tak sedikit perupa yang
mempekerjakan “artisan” sebagai asisten penting untuk mengeksekusi
gagasan artistiknya dengan berbagai medium. Misalnya perupa Rudi
Mantofani sempat dibantu oleh Ahmad Syahbandi untuk menyelesaikan
lukisan-lukisannya. K.P. Sancoko dibantu oleh Oskar Matano, S. Teddy D.
dibantu oleh Khadafi. Patung-patung karya Budi Kustarto beberapa dibantu
pengerjaannya oleh Wilman Syahnur yang belakangan menjadi seniman yang
mandiri. Karya-karya tiga dimensi berbahan cor aluminium karya Entang
Wiharso atau beberapa karya Titarubi, Mella Jaarsma dan seniman papan
atas lainnya dikerjakan di studio Ichwan Noor di bukit Sempu,
Yogyakarta. Karya-karya Heddy Hariyanto sempat dikerjakan oleh Ambrosius
Eddy “Gundul”. Karya-karya 3 dimensi Ivan Sagito dan Heri Dono sedikit
banyak dibantu penyelesaiannya oleh Slamet Klintho, dan masih banyak
lagi. Ini tak jauh beda dengan salah satu perupa papan atas China
sekarang, Yue Min Jun, yang mau tak mau meminta bantuan sekian banyak
“artisan” di studio besarnya untuk memenuhi target berpameran tunggal
atau memenuhi undangan di perhelatan penting seni rupa di berbagai kota
di dunia dalam rentang waktu yang berdekatan.
Praktik-praktik
semacam yang dikritisi Masdibyo, entah itu “seniman penindas” atau
“seniman artisan”, memang sah dan tampaknya “dibenarkan” oleh sejarah.
Namun bukan berarti itu tak ada risiko yang mengikutinya. Antara lain
dari perspektif pasar. Ada sekelompok pencinta seni yang dianggap
konservatif yang tetap mengedepankan pemahaman dasarnya bahwa karya seni
rupa itu diciptakan sepenuhnya oleh sang seniman bersangkutan, dari
hulu hingga hilir, tanpa sentuhan tangan pihak atau alat lain. Inilah
yang mulai “berjarak” dengan seniman yang “meminjam tangan”. Sementara
yang lain tetap berasumsi bahwa seniman bekerja di tahap gagasan
sementara eksekusinya bisa dibantu oleh orang atau alat lain.
“Pertarungan” dan gesekan antar-keduanya pasti ada dengan membopong
argumentasi dan pengaruh masing-masing.
Kepongahan dan Spirit Kesenimanan
Di
antara berbagai problem dalam seni rupa yang menerbitkan cercah
keresahan, Masdibyo sesekali sengaja membagi kisah-kisah suksesnya yang
bisa jadi tidak banyak dialami oleh pelukis lain, apalagi yang berproses
dan bermukim di luar “pusat-pusat” seni rupa Indonesia, seperti
Yogyakarta, Bandung, atau Jakarta. Kisah-kisah sukses itu ketika dibaca
oleh pihak lain bisa saja ditangkap sebagai ungkapan narsisisme atau
semacam kecenderungan psikologis bagi seseorang untuk memuja dan
menonjolkan dirinya. Dalam dunia maya khususnya di “blantika” Facebook, gejala narsisisme serupa ini telah sangat lazim. Facebooker men-share deretan
album foto yang tengah berpose di antara bintang selebritas, mejeng di
landmark tertentu saat piknik di luar negeri, atau mempertontonkan
secuil representasi kepemilikan material-properti, dan sebagainya. Semua
itu telah menjadi “penyakit kolektif” yang dirayakan bersama-sama.
Tidak saja di Indonesia namun Facebooker di setiap sudut dunia yang lain ternyata juga mempraktikkannya.
Masdibyo
juga tak luput melakukan narsisisme tersebut. Saya bisa ambilkan 4
status yang pernah di-posting dan saya ambil secara acak:
"Mas,
jauh2 dari jakarta cuma untuk lukisannya masdibyo lho,,, Ini tadi
kupikir dari bandara ga jauh, ternyata dua jam lebih lho,,, dikasih ya
tiga lukisan sekian,,, bajetku cuma ada sekian lho mas,,, plis dong,,," "GENGSI
AH,, MOSOK SEORANG HENKY KURNIAWAN NAWAR??? GINI AJA DE,,, YANG ADA ITU
DITRANSFER SEKARANG,, SISANYA SETELAH LUKISAN KUKIRIM, OK???" "Tega de Masdibyo,,, kalo bukan karena istri hamil yg minta aku ga belain lho mas,,," "NAAAAAAH,, JUSTRU KARENA Si BABY YG MINTA ITU MESTINYA GENGSI DONG,,, BIAR PUTRANYA KELAK PUNYA GENGSI & SELERA YG BAIK". "gitu ya???" "YA IYA LAAAAAAAAAH" "ya udah,, gini aja besok selasa aku transfer, aku dikasih bonus yg item-putih itu, kubawae sekarang ".
hahahahahahahaha,,, akhirnya,,,
(October 29, 2011)
Beli lukisanku 50 juta dicicil 3X. ketika aku ke rumahnya, kuliat digarasinya ga ada mobil kecuali Avanza lama yang dipake, "yaaaah, orang kecil kan juga boleh punya selera seni yang bagus kan mas???" ...Bilangnya ke aku sambil pandangi lukisan, kakinya selonjor ke meja, dan kedua tangannya dilipat ke belakang kepalanya. aku terdiam kagum sambil memandanginya, ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Beginilah penggemar lukisanku murni dari hati, bukan dari pasang telinga lantaran kebohongan yg diciptakan para kapitalis yg tak pernah merasa cukup, yang didukung oleh kurap-kurap penjilatnya.
(January 23, 2012)
"Masdibyo, kalo diajak pameran kolektornya diundang dong,," "LHOOO,
KALO AKU... MAU IKUT AJAKAN ANDA INI,, TUJUAN SAYA MENJARING KOLEKTOR
BARU, KAN PERCUMA AKU IKUT KALO GA NAMBAH ORANG TUA ANGKAT UNTUK KARYA
SAYA”. "yaaa, siapa tau bisa beli karya pelukis yg lain". "WANI PIRO?? " hahahahaha,,,,, kamipun tertawa sambil nyruput wedang jahe Semarang sembari nunggu pesawat yg mau bawa dia balik ke Jkt.
(November 28, 2011)
Pesen lukisan sejak tgl 9 Maret 1996, baru kuselesaikan tgl 11 Januari 2012!!! Hahahahahaha,,,,,
ga marah, tapi justru senang ,,, dan uniknya, dinding yg disiapkan
untuk lukisanku dibiarkan kosong selama 16 th!! Begitulah,, kolektorpun ternyata ga kalah gendeng ama pelukisnya,,, Ketika kutanya: "Kok ga ngamuk pak??? Juga ga pernah mengingatkan???" Jawabnya:
"Ngapain ngamuk?? Ngapain harus ngingatkan??? Berarti lukisan2 Masdibyo
sebelum2nya memang belum pantas jadi koleksi saya,,," dancuk!! Cerdas juga jawabnya. Hahahahahahaha,,,,
(January 11, 2012)
Status-status
di atas dengan cukup jelas mempertontonkan sebuah relasi psikologis
yang karib antara Masdibyo sebagai seniman dan para pencinta seni atau
kolektor sebagai apresian atau konsumen karya-karyanya. Pada status
pertama secara jelas tertunjukkan bahwa (calon) kolektornya adalah Henky
Kurniawan, seorang bintang sinetron muda asal Jawa Timur yang pernah
menjalin cinta dengan penyanyi dan pesinetron imut Bunga Citra Lestari
(BCL).
Dari
narasi singkat itu pembaca, setidaknya saya, bisa menjumput fakta kecil
bahwa (1) Ada dugaan bahwa jaringan pasar atas karya-karya lukis
Masdibyo cukup meluas dan tidak terkungkung pada lingkup pencinta seni
yang selama ini beredar dari galeri ke galeri yang ada di Jakarta atau
kota lain. Lalu, (2) Ada praduga bahwa jejaring pasar seni rupa yang
banyak bergerak di antara galeri, rumah lelang dang geng-geng kolektor
tertentu tampaknya tak banyak berlaku pada diri Masdibyo. Seniman yang
pernah menjadi Finalis Kompetisi Philip Morris Art Award tahun 1996 dan
Finalis Kompetisi Indofood Art Award tahun 2003 ini sepertinya telah
sedikit demi sedikit menciptakan jaringan pasar tersendiri yang berbeda
dengan kebanyakan seniman lain yang sangat bergantung dengan galeri
komersial.
Fakta
itu relatif makin terjelaskan dengan 3 status di bawahnya. Ada kolektor
karyanya yang mengoleksi dengan membayar secara angsuran sebanyak 3
kali hingga lunas Rp 50.000.000,-. Status ini seolah memberi pesan bahwa
untuk seorang kolektor seni rupa sejati, bukan kolekdol (mengoleksi
karya lalu di-dol, dijual kembali saat harga melambung), Masdibyo tak
segan-segan melakukan kompromi dalam transaksi, yakni bisa melepas karya
dengan cara dikredit. Dengan menjadikan modus transaksional semacam ini
sebagai status di Facebook, secara sadar seniman kelahiran Pacitan, 7
September 1962 ini seperti membagi trik-triknya dalam berbisnis karya
seni. Kiranya tak banyak seniman bisa dengan terbuka melakukan hal ini,
entah karena problem etik bahwa hal ini terlalu personal sifatnya, atau
tak mau dibaca oleh orang lain dalam perspektif berbeda, misalnya hal
ini sebagai bentuk narsisisme dan kepongahan pribadi. Atau kemungkinan
lain bahwa Masdibyo membeberkan fakta-fakta itu karena senyatanya ada,
sementara beberapa seniman lain sulit mengungkapkan banyak hal karena
belum memiliki fakta yang bisa di-share ke khalayak. Fakta-fakta tentang
relasi Masdibyo dalam dunia pengoleksian karya seni rupa tampak
tersurat dalam dua status di bawahnya, tentu dengan varian berbeda.
Lone Ranger dan Ketakutan Keledai
Akhirnya, dengan menyimak sekian banyak status yang terpampang di wall Facebook-nya,
publik—setidaknya yang menjadi friend dengannya—dapat sedikit banyak
mengonstruksi tafsir tentang sosok seniman yang telah menunaikan ibadah
haji tahun 2007 ini. Namun demikian konstruksi tersebut bisa
dimungkinkan memiliki kelemahan bila diasumsikan sebagai satu-satunya
alat baca atas dinamika pemikiran dan gejolak batin Masdibyo. Apalagi
kemudian menjadi alat utama untuk memberi kesimpulan karena dalam status
Facebook tidak diperoleh pemikiran yang sangat tuntas, namun baru
perca-perca serupa sketsa pemikiran semata. Masdibyo sendiri juga nyaris
tidak/belum melansir gagasan yang tuntas lewat fasilitas “Notes” yang
menjadi salah satu fitur dalam jejaring sosial yang sudah memiliki
account pengguna sejumlah 800 juta itu. Namun jelas bahwa status-status
itu sama sekali tak bisa diabaikan sebagai sebuah kemungkinan rangkaian
fakta-fakta yang ditekstualisasikan secara sederhana.
Salah satu status yang diduga bisa menjadi representasi sosok seniman Masdibyo adalah status yang di-share awal-awal tahun 2012 ini sebagai berikut:
melawan mafia seni rupa S . E . N . D . I . R . I . A . N sebab mayoritas perupa negeri ini pada jadi K . E . L . E . D . A . I Sementara yg lain pasrah, membiarkan dirinya tumbang oleh ketakutannya sendiri.
(January 6, 2012)
Status
ini seperti amarah yang menggumpal terhadap komunitas yang berada di
sekitarnya. Namun secara tersirat juga sekaligus dapat dibaca sebagai
sebuah ajakan untuk melakukan resistensi terhadap praktik mafia dalam
seni rupa di sekitarnya. Saya kurang tahu persis apakah pernah ada rasa
sakit hati yang lalu melahirkan kesumat begitu dalam pada diri Masdibyo
terhadap pihak lain yang telah merugikannya.
Praktik
mafia seperti yang diduga Masdibyo itu bisa jadi yang membuat dirinya
gelisah. Mungkin juga marah. Ada dugaan kuatnya politik kesenian yang
dimainkan oleh para mafia tersebut kemudian menenggelamkan eksistensi
ayah dari tiga putri yang mulai beranjak dewasa ini. Ruang-ruang
geraknya terbatas dan dibatasi sehingga upaya unjuk kreativitasnya
terkurangi. Dari secuil data bisa diduga mengarah ke sana. Misalnya,
dari 37 kali pameran tunggal yang pernah dilakukan oleh Masdibyo dalam
rentang waktu 1987-2008 (21 tahun), hanya 5 kali dilakukan di galeri
komersial. Selebihnya dihelat di hotel atau venue seni budaya
non-komersial. Ini bisa menjadi tengara bahwa jangan-jangan Masdibyo
sengaja melakukan resistensi terhadap praktik mafia dalam seni rupa,
atau justru telah sejak awal dipinggirkan sehingga tak memiliki ruang
mediasi di venue-venue seni yang bertendensi kepada pasar itu.
Namun
kalau kemudian dia mampu mengatasi problem itu hingga secara finansial
bisa dikayakan oleh hasil kreativtas seni rupanya, maka hal yang perlu
diketahui adalah, dalam jaringan kerja seperti apa Masdibyo banyak
bergerak? Publik seni rupa tentu sangat paham bahwa dewasa ini seorang
seniman selalu bisa memiliki pencapaian ekonomi-finansial yang memadai
dan eksistensi personal sebagai seniman kalau dia masuk dalam jejaring
kerja yang dibawa oleh galeri komersial atau sejenisnya. Masdibyo
tampaknya absen dari hingar-bingar jejaring kerja dan pasar mainstream
yang ada di pasar seni rupa Indonesia. Ketika ramai-ramainya booming
seni rupa 2006-2008 lalu, bahkan dalam biodata tidak tercatat ada agenda
pameran kolektif yang diikutinya. Namun pameran tungalnya di Hotel
Nikko, Jakarta tahun 2008 bertajuk "Di atas Langit Ada Langit”
dikatakannya telah menangguk kesuksesan besar dalam aspek market. Kalau
fakta itu benar, kiranya ini salah satu titik anomali dalam seni rupa di
Indonesia. Jejaring kerja dan jejaring pasar telah dibangunnya sendiri
dengan modus yang berlainan dengan kebanyakan seniman lain.
Kondisi
ini menarik meski kemudian berisiko bagi keberadaan dan eksistensi
Masdibyo. Dalam praktik wacana seni rupa, namanya kurang banyak disebut
dan terucapkan di altar level atas. Ini bisa jadi cukup meresahkan,
bukan karena namanya tak tercatat, namun lebih karena kuatnya
cengkeraman para mafia seni yang memungkinkan adanya praktik politisasi
seni yang bisa merugikan bangunan seni rupa itu sendiri secara umum dan
jangka panjang. Ada kesadaran atas praktik seperti itu, dan Masdibyo
seperti berupaya melawan untuk tak menjadi deretan keledai seperti
lainnya.
Apakah
seniman yang pernah menjadi kandidat Bupati kabupaten Pacitan ini akan
tetap bertahan dengan jalan pilihannya menjadi lone ranger yang
konsisten membangun citra dirinya? Dengan segala kepongahan, narsisisme
dan kelemahannya, kiranya masih ada beberapa nilai lebih dan positif
Masdibyo yang bisa dirunut untuk dijadikan cermin bagi para seniman lain
untuk berbuat. Benarlah kalimat Thomas Huxley di awal tulisan ini. Ayo,
Masdibyo dan seniman lain, bertindaklah, berbuatlah, action-lah untuk
dunia yang jadi pilihan hidup dan menghidupimu.
Kutipan dari : KussIndarto |