Wednesday, 28 November 2012

Republik Jancukers



 

Kita melihat dalam jiwa raga kita selaku the Java kini sudah enggan untuk meneruskan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita. Bahasa jawa yang merupakan bahasa daerah kita, kini jarang sekali, bahkan kita enggan untuk menggunakannya. Padahal banyak sekali budaya-budaya kita yang perlu kita ketahui.Kami terinspirasi dari seorang budayawan jawa dari jawa timur, bernama AGUS HADI SUDJIWO alias SUDJIWO TEDJO selaku bapak presiden REPUBLIK JANCUKERS, yang begitu jeli dalam melestarikan budaya jawa, sampai-sampai beliau tidak setuju kalau KESANTUNAN disalah artikan sebagai topeng untuk melakukan hal-hal yang tidak senonoh.Oleh karena itu mari kita satukan presepsi kita dalam satu kesatuan REPUBLIK JANCUKERS dengan tujuan:




1. Mempererat tali silaturahim antar sesama (suku jawa) maupun orang lain (suku non jawa).

2. Mengenali dan melestarikan budaya jawa.

3. Bersatu untuk melawan kesantunan yang sudah disalah artikan.

4. Menyatukan idiologi kita sebagai bangsa Indonesia dan menjaga budaya kita dari pengklaiman bangsa asing.




MAKNA JANCUK DAN SANG PELOPOR JANCUKERSTAK SELAMANYA JANCUK ITU NEGATIVE..!!!Inilah budaya jawa yang sarat makna. Kata jancuk yang selama ini dipakai oleh orang jawa timur sebagai ungkapan rasa marah, umpatan, dan kecewa telah memaknai dirinya lebih luas dari makna bawaanya. Saking seringnya kata jancuk dipakai dalam pergaulan sehari-hari perluasan makna jancuk sekarang ini seolah-olah sudah diterima sebagai ungkapan biasa dan bahkan di sebagian situasi dan kondisi kata jancuk sudah menjadi isyarat keakraban. Dari segi asal usulnya kata jancuk memang sulit dipastikan, apakah ini asli bahasa jawa atau serapan dari bahasa lain. Menurut informasi yang beredar di masyarakat, ada beberapa pendapat yang menyebutkan tentang asal-usul kata jancuk. Ada yang bilang bahwa jancuk itu berasal dari bahasa arab, dari kata Da’ Su’yang berarti tinggalkanlah kejelekan atau keburukan. Ada pula yang berpendapat bahwa kata jancuk adalah turunan kata ‘di-encuk’ dalam bahasa jawa berarti disetubuhi dan lain sebagainya. Kata jancuk juga mempunyai varian atau sinonim, beberapa diantaranya adalah diangkrik, jiangkrik, dancok, jiancok dan lain-lain.Dalam kaitanya dengan budaya jancuk menurut saya mempunyai keunikan tersendiri. Jikalau jancuk digunakan untuk mengumpat atau melampiaskan kemarahan, disana jancuk mempunyai porsinya sendiri sebagai kata yang kotor dan tidak pantas untuk diucapkan. Lain lagi jikalau jancuk digunakan untuk mengungkapkan sebuah kekaguman, “Jancok, ayune rek….(Wah, Cantik bener…)” rasa yang timbul ketika mengungkapkan jancuk itu sudah berbeda dan tidak ada unsur kejelekan sama sekali. Jancuk juga sangat pas digunakan untuk mengungkapkan sebuah kerinduan “Jancok, kon nandi ae, suwe ga ketoro ” kurang lebih artinya seperti ini, “Dari mana saja kamu, kok lama ga kelihatan”. Dan saya kira tidak ada bahasa manapun yang mampu mewakili kata jancuk di dunia ini. Coba anda cari padanan kata jancuk di dalam bahasa lain, dalam bahasa inggris mungkin sama artinya dengan “Fuck” dalam bahasa Indonesia ada kata “Babi, Anjing” akan tetapi konteks jancuk tidak sesempit itu.




Kata fuck tidak bisa digunakan untuk mengagumi sesuatu begitu juga babi dan

anjing.Kata jancuk sekarang sedang ngetrend akibat sang pelopor jancukers Mbah Sudjiwo Tedjo. Mungkin beliau sengaja memilih kata jancuk sebagai sebuah ungkapan yang pas untuk mengatakan bahwa jancuk itu belum tentu jancuk. Dimana artinya kita ini harus mempunyai wawasan yang luas untuk memahami sesuatu jangan dilihat dari bleger atau wujud yang nampak. Saya menangkap bahwa mbah tedjo sedang member pelajaran kepada kita untuk saling menghargai sesuatu.












Artikel Terkait:

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com