Wednesday, 28 November 2012

Sudjiwo Tedjo Maju di Pemilihan Capres 2014







Masih dua tahun lagi Pilpres 2014 apabila dihitung mulai dari sekarang yang baru menginjak tahun 2012. Cukup lama bagi masyarakat Indonesia yang “tidak tahu apa-apa”. Namun sebaliknya waktu yang singkat bagi elite politik untuk mempersiapkan segalanya. Ya, Pilpres 2014 hanyalah sebuah pertarungan politik saja! Pertarungan perlu dimulai jauh-jauh hari bila ingin memenangkannya. Mulai dari partai politik yang sibuk mempersiapkan calon serta membangun citranya, “membunuh” lawan politik, sampai pada persiapan yang tidak boleh diketahui masyarakat. semua itu dilakukan sejatinya tidak lebih untuk merebut simpati masyarakat, karena Negara kita ini telah menggunakan sistem demokrasi yang katanya dari rakyat untuk rakyat.





Dalam hal ini apabila kita bisa berpikir jernih maka sejatinya rakyatlah yang seharusnya berkuasa. Rakyat yang punya hak untuk menentukan segalanya, untuk itu perlu dimanja seperti balita. Ya, tak ubahnya balita yang masih polos, sangat memungkinkan untuk dibodohi karena dianggap masih belum tahu apa-apa. Namun, apabila mengetahui sedang dibodohi mereka akan mengamuk, untuk itu perlu dimanja. Diperlakukan istimewa, diberikan bantuan usaha, pinjaman modal, tokoh-tokoh masyarakat diberikan penghargaan,serta janji-janji manis untuk mengurangi pengangguran, memberikan lapangan pekerjaan, gaji buruh dinaikkan, biaya pendidikan dan kesehatan gratis, sembako murah dan lainnya yang akan direalisasikan ketika dirinya terpilih.

Hal itu akan sering dilakukan ketika menjelang Pilpres karena katanya dari rakyat untuk rakyat. Ketika Pilpres usai dan salah satu dari calon terpilih? Akankah janji manis hanyalah sebatas janji di atas ingkar? Selalu saja terus terjadi berulang kali dari masa ke masa, seakan telah menjadi budaya perpolitakan di Negara kita tercinta ini. Rakyat pun dengan terpaksa dapat memaklumi, karena sadar meskipun berteriak sekeras apapun tidak akan banyak membantu meskipun katanya mereka yang paling berkuasa di dalam sistem demokrasi ini. Tetaplah elite politik yang paling berkuasa, hingga sering kita jumpai di media tingkah mereka yang sakarepe udele dewe. Akibatnya jelas rakyat menjadi apatis dengan dinamika perpolitikan seperti ini. Politik kejam, kotor, menindas dan sama sekali tidak menguntungkan, kata-kata seperti itu sering terdengar dari mulut rakyat kecil. Semua elite politik sama, kinerjanya sama-sama mengecewakan. Kesantunan yang di bawa SBY juga ternyata berujung tragis, berusaha memainkan citra untuk meraih simpati rakyat pada akhirnya partainya diserang lawan politik dan hancurlah citra yang selama ini ditampilkan di depan rakyat Indonesia. Kinerjanya juga tekesan lamban karena harus bersolek terlebih dahulu sebelum bekerja agar terlihat ganteng. Rakyat butuh pemimpin yang capcus! Kritikan baik secara manis ataupun pedas banyak ditujukan pada Presiden Republik Indonesia ini, dan salah satu sosok yang rajin mengeluarkan kritik terhadap dinamika perpolitikan adalah Sudjiwo Tedjo yang katanya seorang budayawan itu. Gerakan perlawanannya banyak dilakukan melalui seni karena jelas beliau adalah seorang budayawan bukan dosen. Gerakan yang cukup menarik dilakukakan olehnya adalah dengan membentuk sebuah komunitas Jancukers melalui twitter untuk melawan kesantunan karena dianggap gagal membawa perubahan. Beliau juga menulis buku Ngawur Karena Benar dan Jiwo Janc#k.Jancukers adalah sebuah miniatur Negara yang dipimpin oleh Sudjiwo Tedjo sebagai Presiden Republik Jancukers. Tentu saja di dalamnya tidak mengenal kesantunan, karena ideologi dari negeri Jancukers ini adalah "ngawurisme" dengan gaya Urakan. Menurutnya Urakan berbeda dengan kurang ajar. Urakan adalah pelanggaran peraturan termasuk dalam pikiran karena tidak sesuai dengan hati nurani. Kurang ajar adalah pelanggaran yang dilakukan hanya karena dorongan nafsu sesaat. Negeri Jancukers mampu mendapat banyak apresiasi dari masyarakat, karena selama ini masyarakat lebih banyak terkekang oleh kesantunan, mereka tidak bebas mengekspresikan jiwanya karena takut melanggar tata nilai yang telah ada. Sujiwo Tejo sebagai seorang budayawan mampu hadir sebagai tokoh untuk memberikan pemahaman lain kepada masyarakat bahwa urakan bukan sesuatu yang lebih buruk daripada kesantunan. Adakah perubahan konkrit yang dihasilkan oleh kesantunan bagi Negara ini? Akankah kita akan men-judge bahwa Urakan tidak lebih baik sebelum bertindak? Sudjiwo Tedjo mampu menawarkan pola pikir yang berbeda ditengah kejengahan masyarakat akan kesantunan elite politik yang ternyata diselimuti dengan kemunafikan. Kemungkinan untuk maju dalam Pilpres 2014? Beliau bisa hadir sebagai capres alternatif ditengah capres yang mungkin hanya itu-itu saja. Selain itu pencalonannya juga bisa sebagai bentuk kritik bahwa orang Urakan mempunyai hak untuk memimpin negeri ini. Namun, beliau mungkin tidak berminat untuk masuk dalam dunia politik karena beliau adalah seorang budayawan. Toh, saat ini beliau masih menjabat sebagai Presiden Republik Jancukers. Lebih asyik melakukan gerakan melalui seni yang cukup cerdas yang selama ini telah dilakukannya.








Hiduplah selalu republik Janc#kku untuk merubah dunia yang semakin buntu ini.


Artikel Terkait:

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com